Doni, seorang calon mahasiswa yang ingin punya Leptop atau notebook untuk bekal kuliahnya, setelah berkonsultasi dengan orang tua dia mendapatkan subsidi dari sekitar 5 juta. Masalah merek dan spesifikasi, orang tua Doni menyerahkan sepenuhnya, karena anaknya yang lebih tahu kebutuhan peralatan yang akan menemaninya menempuh perkuliahan. Dengan bekal budget dari orang tua itu bisa saja Doni membeli laptop yang biasa-biasa dijual dipasaran, dengan cepet asal dapet, namun hal itu tidak Doni lakukan, karena pemilihan notebook ini untuk dirinya sendiri dan kelak akan dipakai lama, misalkan awet tentunya akan menjadi aset yang tidak akan tergantikan.
Berbekal jatah subsidi tersebut, Doni mencoba mencari informasi, harga, spesifikasi dan support beberapa produk. Informasi didapat dari forum, review dan beberapa blog pribadi. dari beberapa review, Doni memperoleh beberapa merek Notebook yang menjadi rekomendasi. Informasi dari forum banyak memeberikan masukan dalam memilih dan menetapkan pilihan yang pas sesuai kebutuhan penggunaan nantinya.
Pada suatu hari, Doni datang ke Pameran Komputer yang lumayan besar. Banyak suplier notebook memajang produk-produk mereka di etalase, berbagai merek menawarkan produknya didampingin oleh agen agen yang siap menjelaskan keunggulan dariproduknya. Doni melihat lihat beberapa merek yang ada disana, sala satunya ke stand S*** , dia ditawari notebook yang konon paling bagus, memang sih, dilihat sekilas penamilan luar leptop terlihat mahal, dengan desain yang elegan dan bahan yang mahal. Menurut info dari forum memang merek itu terkenal bagus dan tentu saja harga yang tinggi. Doni awalnya tidak tertarik dengan notebook ini, pertama karena memang uang bekalnya tidak akan sanggup menebus, kedua karena pasti nanti akan membutuhkan perawatan ekstra.
Sales yang peka segera menemui customer yang melihat-lihat barangnya, menawarkan produk dengan menyampaikan keunggulan2 nya, Doni yang saat itu memang ingin mencari barang mendengarkan penjelasan dengan seksama, tanya jawab dan beberapa scam terlontar dari sales dan calon pembeli. Entah seperti apa dan bagaimana sales itu menjelaskan, Doni jadi tertarik untuk memiliki notebook dengan type Va*** itu. Walaupun uang nya kurang, dari agen seles itu menawarkan untuk memesan terlebih dahulu saja dan pembayaran secara kredit, karena statusnya pemesanan dan pembayaran kredit maka barangnya pun harus inden alias menuggu stok. Waktu tunggu yang di janjikan adalah maksimal 2 bulan dari perjanjian pemesanan, jika barang sudah ada akan dikabari untuk mengambil.
Selama waktu tunggu tersebut, doni mendapatkan tawaran leptop lain merek IB* dari temennya yang juga agen resmi merek tersebut, tampilannya memang tidak seperti merek pertama, lebih tegas dan kokoh, menurut info dari forum2 tipe leptop ini handal dalam segala medan, tidak rewelan dan mau diajak bekerja keras karena memang didesain untuk para programmer dengan load kerja yang tidak biasa. Harga yang di tawarkan lebih miring dari pada merek pertama, namun Doni memang harus kerja partime juga misalkan ingin menebus leptop ini. Doni masih punya taggungan untuk menunggu inden notebook pertama tersebut dan tidak berani menerima tawaran notebook 2.
Hampir genap dua bulan, leptop yang dipesan tak kunjung datang dan kelas perkuliahan sudah akan segera mulai, timbul kebimbangan apakah sales agen yang menawarkan dulu itu benar2 dapat dipercaya dan dapat membantunya mendapatkan leptop idamannya. Doni menghubungi agen penjualan notebook pertama tersebut untuk mendapatkan kepastian mengenai pemesanannya. Usut punya usut, ternyata kebijakan pemesanan dengan harga kredit itu sudah berubah dan tidak lagi melayani, ini kebijakan internal sales tersebut yang diterapkan selama rentang waktu pemesanan leptop Doni. Doni yang mendengar kebijakan baru itupun tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa memperhitungkan waktu yang dia buang untuk menunggu leptop tersebut tanpa hasil.
Kasus diatas sebenarnya bukan semata-mata kesalahan agen penjual tersebut, tapi juga kesalahan Doni dalam kesepakatan awal, Doni harusnya lebih jeli dan tidak mudah terbujuk dengan tawaran yang mungkin menarik, juga masalah pemilihan Notebook yang disesuaikan dengan kebutuhan. Walapun desain dan penampilan luarnya bagus, tapi performa dan kinerjanya sama seperti pada umumnya ya tentusaja sayang sekali, hanya membayar untuk penampilan dan perawatan. Bisa jadi Doni akan memilih leptop IB* yang ditawarkan temennya tersebut, tentunya dengan pertimbangan penggunaan, kebutuhan pemakaian dan kans kepemilikannya. Bisa jadi juga Doni malah menebus Ma*Boo* dengan spek hardware dan software lebih handal dan berkualitas dari notebook tersebut diatas.
Related Posts
- No related posts found
Facebook Comments
Powered by Facebook Comments